Sebelum sampai pada topik kartu kredit, hal pertama yang harus kita
ketahui dan pelajari adalah mengenai asal muasal uang. Kartu kredit
adalah produk perbankan yang hadir setelah beredarnya uang yang juga
merupakan produk perbankan. Kartu kredit tidak diciptakan begitu saja.
Beberapa orang bahkan menyebutkan bahwa kartu kredit sebagai bentuk dari
masa depan uang itu sendiri (smart money). Tentu saja karena berbagai kelebihan dan keunikan kartu kredit itu sendiri.
Pada zaman purba, petani akan selamanya makan padi, nelayan akan
selamanya makan ikan, peladang hanya makan buah-buahan, peternak akan
konsumsi daging, pemburu akan selalu makan binatang hasil buruan, dst..
Mengapa bisa dikatakan demikian? Tak lain karena zaman dulu manusia
belum mengenal apa yang disebut sebagai "transaksi bisnis". Kehidupan
zaman dulu benar-benar sangat membosankan. Yang dikonsumsi ya itu-itu
saja. Jangankan zaman purba, sekarang yang sudah modern saja masih ada
banyak orang yang hidupnya merasa bosan dan kesepian sampai ada yang
bunuh diri.
Suatu hari, petani, nelayan, peladang, peternak atau pemburu akan
berpindah tempat tinggal (manusia nomaden) karena satu dua hal seperti
bencana alam, menghindari binatang buas, sumber daya alam yang menipis,
dsb.. Dalam perjalanan berpindah-pindah seperti inilah nelayan akan
bertemu petani, petani akan bertemu pemburu, pemburu bertemu peternak,
dst.. Terjadilah interaksi di antara mereka yang pada akhirnya membuat
masing-masing pihak sadar bahwa di muka bumi ini ada sumber makanan lain
selain makanan yang mereka konsumsi sehari-hari. Ada sayur,
buah-buahan, ikan, hasil laut, burung, kambing, domba, padi, gandum,
dsb.. Saat itulah terjadi pertukaran makanan yang kita kenal dengan
sebutan "barter" (tukar menukar).
Tempat di mana mereka sering bertemu ini lama-lama dijadikan pusat
pertemuan dan pertukaran makanan resmi demi kemudahan dan efisiensi.
Misalnya karena letaknya yang gampang dijangkau dari masing-masing
pihak, aman dari gangguan binatang buas, dekat sungai, laut, dsb.. Dari
sini Anda sebenarnya sudah bisa menarik pelajaran bahwa lokasi bisnis
yang baik memang harus mudah dijangkau, dekat dengan konsumen, aman dan
banyak fasilitas pendukung. Inilah yang dinamakan dengan istilah
"strategis". Jadi bisa Anda bayangkan sebuah negara atau kota yang tiap
hari demo, rusuh, bom meledak di mana-mana, transportasi macet, listrik
amburadul, air bersih tidak ada, jalanan berlubang-lubang kayak kubangan
sapi, bagaimana negara atau kota itu bisa maju? Sampai kiamat negara
itu tidak akan maju sekalipun dipimpin seorang dewa atau malaikat.
Inilah salah satu alasan mengapa Indonesia tercinta ini tidak pernah
maju dibandingkan negara-negara tetangga bahkan Malaysia.
Tempat pertemuan untuk melakukan barter ini, akhirnya disebut
pasar yang diadaptasikan menjadi pasar moderan seperti yang kita kenal
sekarang. Makanya pengertian pasar adalah tempat bertemunya penjual
dengan pembeli. Padahal waktu dulu pasar bukanlah tempat bertemu penjual
dan pembeli melainkan bertemu antara pemilik barang dengan peminat
barang yang juga memiliki barang yang lain. Waktu dulu belum ada uang
dan masih berlaku hukum barter.
Adanya proses pertukaran barang seperti ini memberikan pelajaran akan
ilmu perdagangan internasional. Setiap negara memiliki sumber daya alam
dan keunggulan yang berbeda dalam mengelola sumber daya tersebut.
Otomatis perlu dilakukan kerjasama perdagangan internasional untuk
meningkatkan daya gunanya. Contoh: Indonesia penuh sumber daya alam
tetapi kekurangan teknologi. Otomatis harus berdagang dengan negara yang
kekurangan sumber daya alam tetapi mampu secara teknologi. Inilah yang
disebut bisnis internasional baik B2B (perusahaan ke perusahaan) atau
G2G (pemerintah ke pemerintah).
Dengan adanya transaksi bisnis internasional, masing-masing negara akan
mendapatkan keuntungan atau nilai lebih. Karena itu orang-orang yang
sering meneriakkan kata-kata boikot produk asing tanpa dasar yang jelas
atau hanya karena sentimentil primordialisme yang dikait-kaitkan dengan
isu SARA, bisa dikatakan orang paling konyol di abad ini. Alasannya
sangatlah sederhana: apakah negara lain tidak bisa melakukan hal yang
sama dengan memboikot produk Indonesia? Bahkan akan jauh lebih fatal
bagi sebagian rakyat Indonesia karena posisi negara kita adalah negara
berkembang dan banyak hutang. Sudah ngutang kok masih mau petantang
petenteng? Tidak perlu sampai negara lain memboikot pengiriman produk
obat-obatan atau vaksin, cukup boikot suku cadang pesawat maka satu
persatu orang Indonesia yang naik pesawat akan segera menghadap
Rahmatullah.
Kekurangan Transaksi Barter
![]() |
| Transaksi Barter. |
Lama kelamaan transaksi barter ini menemukan kendala yang sangat riskan dan fatal. Alasan pertama, berkaitan dengan masalah jumlah atau takaran. Kalau sekarang kita menyebutnya satuan nilai.
Apakah jika seseorang kaya raya maka dirinya harus menimbun padi,
beras, ikan asin, buah-buahan berton-ton di rumah yang suatu hari akan
lapuk dan membusuk? Tentu konyol bukan? Alasan kedua, bagaimana
menakar sekarung padi atau beras dengan ayam, ikan, buah-buahan? Apakah
10 ekor ayam sama dengan 2 kilo ikan, atau 5 ikat sayur sama dengan 1
ekor kambing? Ayam dan kambing adalah binatang hidup yang bisa beranak
pihak, sementara padi, sayur, buah-buahan, ikan bisa membusuk dan
menyusut. Jadi di sinilah sumber kerumitan muncul dari transaksi barter.
Kabar baiknya: manusia adalah makhluk yang paling jenius. Jika masalah
tersebut tidak bisa diatasi maka lama-kelamaan akan menimbulkan
kekacauan. Kehidupan manusia bisa tidak berkembang ke arah yang lebih
maju. Di samping dua masalah yang menyangkut satuan nilai, alasan ketiga adalah transaksi barter hanya bisa terjadi jika kedua belah pihak membutuhkan barang yang dibawa pihak lain dan juga harus membawa barang yang dibutuhkan oleh pihak lain. Anda perhatikan baik-baik. Di sini jauh lebih rumit untuk terjadi. Seorang petani yang membutuhkan ikan tidak bisa melakukan barter
jika dia hanya menemukan pemilik kambing. Sebab petani membutuhkan ikan
dan tidak membutuhkan kambing. Sementara itu bisa saja nelayan tidak
membutuhkan padi melainkan membutuhkan buah-buahan. Jadi meski
masing-masing membawa produk yang mereka miliki, sudah ada takaran nilai
tukarnya, membutuhkan produk lain, tetap saja tidak bisa bertransaksi
sebelum menemukan lawannya.
Lama kelamaan petani yang membutuhkan ikan, berasnya keburu membusuk
jika dia menunggu sampai nelayan yang membutuhkan buah-buahan untuk bisa
membutuhkan padi. Begitu juga ikan si nelayan akan membusuk jika dia
menunggu peladang yang sebenarnya membutuhkan kambing, dst. Rumit sekali
bukan? Sama seperti saat ini, Anda punya produk A tetapi tidak
mendapatkan peminat atau konsumen, lama-lama produk tersebut menjadi
barang yang tidak ada gunanya alias rugi. Dari sinilah maka muncul cikal
bakal yang dinamakan uang hingga seperti yang kita kenal sekarang dalam
bentuk logam dan kertas.
Awal Mula Mata Uang
![]() |
| Mata Uang Logam dan Kertas. |
Sejak manusia mengenal uang sebagai satuan nilai dan alat tukar, lama kelamaan barter ditiadakan. Tetapi dalam perjalanan waktu, penggunaan alat-alat tukar ini menemukan kerumitan dan kendalanya tersendiri. Alasannya karena bentuk fisiknya yang berat dan jumlahnya terbatas. Meski secara standarisasi nilai sudah cukup bagus karena logam mulia tidak bisa lapuk, rusak atau berkurang beratnya seperti penggunaan alat kerajinan tangan, tetapi tetap saja merepotkan.
Seperti kita ketahui bahwa emas, perak, tembaga, timah dan logam-logam
lain jumlahnya sangatlah terbatas dan perlu usaha keras untuk
menambangnya. Ini juga menjadi kendala yang sangat mengganggu. Suatu
hari cepat atau lambat akan menemukan kendalanya tersendiri jika tidak
segera dicari solusinya. Jumlahnya akan terus berkurang untuk ditambang
karena sumber daya alam tambang tidak bisa diperbaharui. Lagian karena
bentuk dan ukurannya yang berat menimbulkan masalah tersendiri. Apakah
jika seseorang kaya raya maka harus menimbun batangan emas, perak,
tembaga berton-ton di belakang rumah? Apakah kalau jalan-jalan ke luar
negeri harus membawa berkarung-karung emas yang beratnya setengah mati?
Sejak itu mulai dipikirkan dan diciptakanlah uang kertas seperti yang
kita kenal sekarang. Tentu masih dilengkapi dengan bentuk uang logam
tetapi pecahan yang sangat kecil dan ringan. Sampai di sini uang
menemukan bentuknya yang luar biasa hingga kita pergunakan selama ribuan
tahun. Dengan adanya uang kertas dan uang logam dalam jumlah terbatas,
maka hadirlah bank-bank yang secara otomatis membuat semua kendala
transaksi terpecahkan. Sampai di sini saya yakin Anda mulai paham.
Perjalanan waktu menjelaskan bahwa penggunaan uang kertas dan uang logam
yang sudah ribuan tahun kita pergunakan ini tetap saja mulai
menimbulkan kendala. Kendalanya itu terjadi karena semakin modern,
semakin tinggi mobilitas manusia itu sendiri. Seperti kita ketahui
apakah seseorang kalau bepergian ke luar negeri harus membawa
berkoper-koper uang? Meski uang kertas sudah cukup ringan, tetapi
bukankah tidak nyaman, rawan serta merepotkan? Apalagi di zaman sekarang
di mana hutan semakin menipis untuk ditebang. Apakah seseorang harus
terlebih dulu menukarkan mata uang asing negara tujuan sebelum bepergian
ke negara tersebut? Hal-hal seperti inilah yang akhirnya memunculkan
ide untuk menciptakan uang dalam bentuk lain yang bisa mengakomodir
semuanya itu. Dari sinilah cikal bakal munculnya kartu plastik yang
akhirnya memunculkan kartu kredit.
Dari serangkaian penjelasan ini Anda tahu bahwa kartu kredit tidak
timbul dengan sendirinya. Semuanya bisa ditelusuri hingga ke zaman
purba. Kartu kredit bukan produk asal-asalan yang diciptakan oleh
orang-orang yang tidak punya kerjaan. Kartu kredit sudah melewati
masa-masa sulitnya di zaman dulu. Bagaimana dengan masa akan datang
seribu tahun kemudian dari sekarang? Tentu yang akan menjawabnya adalah
anak cucu cicit kita nanti. Apakah akan menggunakan chip yang dibenamkan ke dalam telapak tangan atau jidat manusia seperti film 666 tentang pemerintahan antikris (one world order)? Apakah nanti akan disematkan di telepon selular atau e-KTP? Jawabannya hanya menunggu waktunya saja.
Dengan mengetahui latar belakang sejarah uang hingga terciptanya kartu
kredit seperti ini, Anda tahu bahwa kartu kredit merupakan alat
transaksi masa depan yang tidak bisa kita pisahkan dari kehidupan kita.
Anda tidak bisa menyepelekan atau cuek terhadap kartu kredit. Hanya orang bodoh yang berkata bahwa kartu kredit tidak ada gunanya.
Kartu kredit sudah sama seperti uang itu sendiri, apalagi jika Anda
tinggal dan menetap di negara-negara maju atau kota-kota besar di
dunia.

